Jumat, 28 Oktober 2011

Apa itu ilmu gizi?

Ilmu  Gizi  merupakan ilmu terapan yg menggunakan berbagai disiplin ilmu dasar : biokimia, biologi,
fisiologi , ilmu penyakit.
Awalnya merupakan ilmu yg mempelajari nasib makanan, sejak ditelan sampai menjadi bagian tubuh
dan energi atau diexresikan sebagai zat sisa. 
Saat ini merupakan ilmu yg mempelajari hubungan makanan dan kesehatan.
 
Gizi
Sesuatu yang membicarakan makanan dalam hubungannya dengan kesehatan dan proses dimana organisme menggunakan makanan untuk memelihara kehidupan,  pertumbuhan, bekerjanya anggota dan jaringan tubuh secara normal untuk produksi tenaga.

Makanan :
Segala sesuatu selain obat yang dapat dimakan dan bermanfaat bagi tubuh

Zat makanan/Zat gizi( Nutrien)
-Unsur/zat kimia yang terkandung dalam makanan/ bahan makanan yang diperlukan untuk
metabolisme dalam tubuh secara normal
-Zat-zat yang terkandung dalam makanan dan bahan makanan yang dibutuhkan oleh tubuh untuk
pertumbuhan  dan menghasilkan energi
 
Bahan makanan
Bahan baku yang dapat dibuat makanan atau dapat langsung dimakan sebagai makanan 
 
Sumber zat makanan
adalah bahan makanan/ makanan yang kandungan salah satu  zat gizi/ nutriennya tinggi sehingga
disebut sebagai sumber zat makanan tersebut

Ilmu gizi ( nutritional science)
-Ilmu yang mempelajari makanan dan bahan makanan yang berkaitan dengan kesehatan.
-Ilmu yang mempelajari makanan,zat makanan dan substansi yang terkandung didalammya
reaksi,interaksi dan keseimbangan dalam tubuh serta keutamaan dengan kesehatan dan penyakit
serta proses-proses yang terjadi dalam tubuh.
 
PENGGOLONGAN ZAT GIZI
Unsur-unsur kimia yang dibutuhkan manusia jumlahnya tidak kurang dari 40 macam , semuanya
dapat dipenuhi oleh keenam golongan zat makanan/zat gizi.( KH, Lemak,Protein,Vitamin,Mineral dan
Air)
 
Fungsi zat gizi secara umum:
Penghasil tenaga
Pertumbuhan
Mengganti bagian -bagian yang rusak dan dirombak
Mengatur fungsi-fungsi alat tubuh
Meningkatkan daya tahan tubuh terhadap suatu penyakit 
Pertahanan kesehatan
 
Penggolongan Zat Makanan
Karbohidrat
Lemak
Protein
Mineral
Vitamin
Air
 
 Penggolongan zat gizi berdasarkan fungsinya dalam tubuh
Zat tenaga :
    adalah komponen kimia yang menghasilkan energi, yai/ kh,lemak,protein
Zat pembangun :
    adalah komponen kimia yang bisa membentuk sel-sel baru. Yai/protein ,mineral ,air
Zat pengatur :
    Adalah komponen kimia yang fungsinya untuk mengatur system dalam tubuh seperti system pencernaan,dll. yai/ protein, mineral dan vitamin.

 4 sehat 5 sempurna dengan susunan menu seimbang
4 sehat 5 sempurna:
Makanan pokok
Lauk pauk
Sayur
Buah-buahan
susu
Seimbang didasarkan pada : 
Umur 
Jenis kelamin 
TB/BB 
Aktivitas 
Keadaan individu.
 
Penggolongan zat gizi berdasarkan struktur kimia
Zat organik :
zat gizi yang menghasilkan energi, yaitu karbohidrat, lemak dan protein
Zat anorganik :
zat gizi yang tidak menghasilkan energi,dan sangat kecil dibutuhkan oleh
tubuh,yaitu mineral dan vitamin

 Penggolongan zat gizi berdasarkan konsentrasinya
Makro nutrien :
Zat gizi yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah banyak seperti
Karbohidrat,Lemak dan protein
Mikro nutrien :
Zat gizi yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah relatif sedikit, seperti
vitamin dan mineral
 
 
 

Kamis, 27 Oktober 2011

Pemberian susu formula dikaitkan dengan diare

 Dr. Henderson menekankan pentingnya untuk “melindungi” dan mendorong pemberian air susu ibu oleh perempuan yang tidak terinfeksi HIV. Lebih lanjut, semakin banyak bukti – misalnya seperti yang disediakan oleh kejadian Botswana – memberi kesan bahwa di antara perempuan HIV-positif, manfaat pemberian air susu ibu sering melampaui risiko penularan HIV (kira-kira satu persen per bulan), terutama apabila sang ibu memiliki jumlah CD4 yang tinggi dan menerima ART.

Pada Oktober 2006, HIV and Infant Feeding Technical Consultation menyepakati pernyataan yang menekankan bahwa pilihan pemberian makanan yang paling tepat untuk ibu HIV-positif tergantung pada keadaan masing-masing individu.
Setelah presentasi tersebut, Peggy Henderson dari WHO mengkaji ulang manfaat dan risiko menyusui pada ibu yang HIV-positif. Sejak terakhir kalinya WHO mengeluarkan saran tentang pemberian makanan pada 2000, telah terkumpul bukti yang menunjukkan bahwa menyusui bayi secara ekslusif selama enam bulan pertama terkait dengan penularan HIV yang lebih rendah dibandingkan gabungan antara menyusui dengan pemberian susu formula, penghentian pemberian air susu ibu dikaitkan dengan diare dan peningkatan mortalitas pada bayi terpanjan HIV, dan menyusui lebih dari enam bulan tampak meningkatkan ketahanan hidup bayi. Sebagai tambahan, perempuan yang memakai ART sepertinya mempunyai kemungkinan lebih rendah menularkan HIV melalui air susu ibu, meskipun penelitian tersebut belum selesai.


Pada kelompok sub penelitian terhadap 153 bayi dengan diare, 93 persen tidak disusui (kira-kira tiga perempatnya diberi susu formula dan 25 persen diberi susu sapi). Tetapi hanya 65 persen ibu yang HIV-positif, menunjukkan bahwa terjadi “kelolosan” dalam pemberian susu formula pada yang tidak terinfeksi HIV. Di antara bayi, 18 persen HIV-positif. Beberapa ibu melaporkan bahwa klinik tidak mampu menyediakan cukup susu formula secara gratis. Kwashiorkor – sebuah bentuk kekurangan gizi pada anak terkait dengan kekurangan asupan protein – adalah satu-satunya prediktor kematian yang bermakna, bukan status HIV ibu atau bayi.
Penyelidikan epidemiologi terhadap wabah ini mengungkapkan bahwa sebagian besar bayi yang menderita diare tidak disusui. Dr. Creek melaporkan dalam analisis multivariat, tidak menyusui merupakan “prediktor terkuat” terhadap diare pada bayi, meningkatkan risiko 50 kali lipat. Menggambarkan besarnya jangkitan tersebut, dalam satu desa, sepertiga bayi yang diberi susu formula meninggal akibat diare, tetapi tidak satupun yang disusui.

Contoh tinja dari anak yang dirawat di rumah sakit karena diare menunjukkan bahwa 60 persen terinfeksi kriptosporidium, 50 persen E.coli , 38 persen Salmonela, dan 17 persen Sigela; banyak yang dengan beragam patogen.
Botswana mengalami periode curah hujan yang sangat tinggi pada November 2005, dan pada Januari 2006, petugas kesehatan masyarakat mulai melihat peningkatan diare pada anak. Kasus meningkat empat kali lipat, dari sekitar 8500 pada 2004 menjadi lebih dari 35.000. Sementara itu kematian meningkat lebih dari 20 kali lipat dari 24 menjadi hampir 530. Pada Maret, petugas kesehatan mencatat kejadian sekunder yaitu kekurangan gizi pada bayi. Wabah diare berhenti awal April.
Di Botswana, pada 2005 hampir sepertiga perempuan hamil terinfeksi HIV. Negara tersebut memiliki program yang dikembangkan dengan baik untuk mencegah penularan ibu-ke-bayi, dan 80 persen perempuan hamil yang HIV-positif menerima sedikitnya AZT. Ibu HIV-positif juga menerima susu formula cukup untuk 12 bulan secara gratis dari klinik.

Dalam satu sesi tentang “Masalah mendesak di dunia berkembang” pada konferensi CROIke-14 pada 25 Februari, Tracy Creek dari Centers for Disease Control and Prevention, AS (CDC) menyampaikan peninjauan tentang jangkitan diare di antara bayi di Botswana yang menyoroti kebutuhan akan pertimbangan yang cermat mengenai keuntungan dan risiko terhadap menyusui.
Di negara maju, dengan ada jaminan air bersih dan persediaan susu formula yang aman dan dapat diandalkan untuk bayi, perempuan HIV-positif disarankan untuk tidak menyusui. Tetapi, di rangkaian miskin sumber daya, WHO menyarankan untuk menyusui, terutama pada enam bulan pertama, kecuali apabila pemberian susu formula “dapat diterima, dimungkinkan, terjangkau, dan aman,” atau “AFASS ( acceptable, feasible, affordable, sustainable, safe ).”
Terapi antiretroviral (ART) profilaksis telah mengurangi kejadian penularan ibu-ke-bayi selama kehamilan dan persalinan secara dramatis, tetapi virus dapat ditularkan melalui air susu ibu